Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ari, dikenal dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari. Beliau merupakan keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari, salah seorang perantara dalam sengketa Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, beliau berkata, “Aku membaca di hadapan Nabi Muhammad saw. penggalan ayat ‘Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.’ Maka, Nabi bersabda, ‘Mereka (yang dimaksud dalam penggalan ayat tersebut) adalah kaummu, wahai Abu Musa’. Dan Rasulullah memberikan isyarat dengan tangan beliau kepada Abu Musa al-Asy’ari”. (HR Al-Hakim).
Kelahiran
dan Masa Remaja
Abu al-Hasan al-Asy’ari dilahirkan di
Basrah pada tahun 260 H/873 M. Beliau merupakan Pendiri madzhab teologi
Asy’ariyah yang lebih dikenal dengan gelar Imam Asy’ari, serta memiliki julukan
Nashir ad-Din.
Ulama ahli hadis sepakat bahwa Abu
al-Hasan al-Asy’ari merupakan salah satu pembesar ahli hadis, sehingga
madzhabnya dilandaskan pada asas dasar yang sesuai dengan prosedur Ahli Sunah
Waljamaah.
Ketika menginjak usia yang relatif muda,
ayah beliau meninggal dunia. Maka, beliau belajar di bawah naungan ayah
tirinya, Abu Ali al-Juba`i yang merupakan tokoh Muktazilah kala itu.
Berkenaan dengan hal ini, al-Hafizh
adz-Dzahabi menyatakan, “Abu al-Hasan al-Asy’ari awalnya seorang Muktazilah
mengambil ilmu dari Abu Ali al-Juba`i. Kemudian beliau lepaskan pemikiran
Muktazilah, lalu menjadi pengikut sunah dan para imam ahli hadis.”
Tajuddin as-Subki menyatakan bahwa selama
40 tahun Abu al-Hasan menganut madzhab Muktazilah sebelum akhirnya Allah
melapangkan dadanya, lalu membela agama Allah dengan membantah segala pemikiran
yang sesat.
Ibnu ‘Asakir mengisahkan darinya (Abu
al-Hasan al-Asy’ari), bahwa ia berkata “Terbenak di hatiku (Abu al-Hasan),
beberapa permasalahan dalam ilmu akidah. Maka, aku pun berdiri untuk
menjalankan shalat dua rakaat.
Dan aku meminta kepada Allah agar Dia
memberikanku petunjuk menuju jalan yang lurus. Aku pun tertidur, tak lama
kemudian aku bermimpi bertemu Rasulullah saw. dalam mimpi. Aku mengadukan beberapa
permasalahan kepadanya.
Lalu Rasulullah mewasiatkan, ‘Tetapilah
sunah-ku.’ Aku pun terbangun dan aku membandingkan beberapa permasalahan ilmu
akidah dengan dalil yang aku temukan di dalam al-Quran dan hadis. Kemudian, aku
menetapinya dan aku membuang selainnya di balik punggungku”.
Sejak saat itulah beliau berpegang pada
prinsip ahli sunah waljamaah, serta menangkis segala pemikiran yang
bertentangan dengan pemikiran ahli sunah. Abu al-Hasan al-Asy’ari memiliki
kecerdasan dan ketajaman pemahaman yang sangat luar biasa. Demikian juga, dia
dikenal dengan kanaah dan kezuhudanya.
Pengembaraan
Keilmuan
Atas wasiat ayahnya, Abu al-Hasan
dipasrahkan menimba ilmu sanad hadis kepada Syekh Zakaria as-Saji, seorang
ulama yang pakar dalam bidang fikih dan hadis serta merupakan murid terbaik
dari Imam Ahmad bin Hanbal.
Guru-guru
Berikut
guru-guru beliau:
-
Abdurrahman bin Khallaf
adh-Dhabbi al-Bashri. Dalam tafsirnya, Abu al-Hasan meriwayatkan darinya.
-
Al-Fadhl bin al-Hubbab
al-Jumahi al-Bashri, dikenal dengan sebutan Abu Khalifah al-Jumahi
-
Ibnu Suraij: Syaikhul
Islam Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij al-Baghdadi
-
Zakaria bin Yahya bin
Abdurrahman as-Saji
-
Muhammad bin Ya’qub
al-Muqri`: Abu al-Abbas Muhammad bin Ya`qub bin al-Hajjaj at-Taimi al-Bashri
al-Muqri`
-
Abu Ishaq al-Marwazi: Abu
Ishaq Ibrahim bin Ahmad al-Marwazi
-
Sahl bin Nuh
-
Abu Ali al-Juba`i, Abu
al-Hasan mempelajari pemahaman Muktazilah darinya, dan pada akhirnya beliau
melawan pemahaman ini.
Murid-murid
Berdasarkan catatan dari Ibnu ‘Asakir,
Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari melahirkan banyak murid yang hebat dan ternama. Di
antara murid-muridnya yang terkenal adalah:
-
Abu Abdillah bin Mujahid
ath-Tha`i, seorang ahli kalam yang kelak seorang hakim Abu Bakar al-Baqilani
belajar ilmu kalam padanya.
-
Abu al-Hasan al-Bahili
-
Bundar bin al-Husain,
yang lebih dikenal dengan Abu al-Husain asy-Syirazi ash-Shufi
-
Abu Muhammad ath-Thabari
al-‘Iraqi
-
Abu Bakar al-Qaffal
asy-Syasyi
-
Abu Sahl ash-Sha’luki
-
Abu Zaid al-Marwazi
-
Muhammad bin Khafif
asy-Syirazi
-
Abu Bakr al-Jurjani
al-Isma’ili
-
Abu al-Hasan Abdul Aziz
bin Muhammad bin Ishaq ath-Thabari
Karya-karya
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abu
Bakar bin Furak, Abu al-Hasan memiliki lebih dari 200 kitab termasuk yang
berbentuk risalah. Yang sangat masyhur di antaranya ialah:
-
(مَقَالَات الْإِسْلَامِيِّيْن)
-
(تَفْسِيْرُ الْقُرْآنِ وَالرَّدّ
عَلَى مَنْ خَالَفَ الْبَيَان مِنْ أَهْلِ الْإِفْكِ وَالْبُهْتَان)
-
(كِتَابٌ فِي خَلْقِ الْأَعْمَال)
-
(الْإِبَانَة عَنْ أُصُوْلِ
الدِّيَانَة)
-
(اللُّمَع فِي الرَّدِّ عَلَى
أَهْلِ الزَّيْغِ وَالْبِدَعِ)
-
(كِتَابٌ كَبِيْرٌ فِي صِفَاتِ
اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ)
-
(الرَّدّ عَلَى الْمُجَسِّمَة
وَالْحَشْوِية)
-
(إِيْضَاحُ الْبُرْهَان فِي
الرَّدّ عَلَى أَهْلِ الزَّيْغِ وَالطُّغْيَان)
-
(رِسَالَة إِلَى أَهْلِ الثَّغر)
- (رِسَالَة اسْتِحْسَان الْخَوْض فِي عِلْمِ الْكَلَام)
Wafat
Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari wafat di Baghdad pada tahun 324 H/935 M. Sebelum meninggal, beliau menceritakan tentang penyelewengan dan kesesatan kaum Muktazilah. Selain itu, beliau mewasiatkan kepada murid-muridnya untuk tidak mudah mengafirkan ahli kiblat (kaum muslim) karena sangat hawatir akan bahaya yang ditimbulkan oleh pengafiran tersebut.


Komentar
Posting Komentar