Langsung ke konten utama

Kekhalifah Harun Ar-Rasyid Pada Masa Dinasti Abbasiyah I

 



Kekhalifah Harun Ar-Rasyid


    Harun Ar-Rasyid, dilahirkan pada bulan Februari tahun 763 M di Rayy dan wafat pada tanggal 24 Maret 809 M. Ayahnya bernama Al-Mahdi bin Abu Ja’far alMansyur, khalifah ketiga dari Bani Abbasiyah. Ibunya bernama Khaizuran, seorang wanita sahaya dari Yaman yang dimerdekakan oleh Al-Mahdi. Harun ar-Rasyid memperoleh pendidikan di istana, baik pendidikan agama maupun ilmu pemerintahan. Ia dididik oleh keluarga Barmaki, Yahya bin Khalid salah seorang anggota keluarga Barmak yang berperan dalam pemerintahan Bani Abbasiyah, sehingga ia menjadi terpelajar, cerdas, fasih berbicara dan berkepribadian yang kuat. (Sou’yb 1997:38)

    Harun ibnu Muhammad menduduki kursi kekhalifahan pada tahun 170 H/786 M menggantikan saudaranya khalifah al-Hadi dengan gelar kehormatan Harun arRasyid. Pada saat itu Harun ibn Muhammad baru berusia 25 tahun.6 Usia yang masih sangat muda untuk menduduki puncak kekuasan sebuah dinasti dengan wilayah kekuasaan yang luas. Namun usia yang masih muda ini justru merupakan salah satu faktor yang mendukung kebah kepemimpinannya mencapai masa keemasan. (NC Syukur 2009:99)

    Pada masa itu, Harun Ar-rasyid merupakan sosok yang sangat disegani dan dihormati, tidak hanya oleh para penduduk negeri Abbasiyyah namun juga oleh para pemuka negara-negara tetangga. Sebagai seorang khalifah, Harun ar-rasyid dikenal sebagai sosok yang alim dan juga tidak segan untuk turun sendirike medan perang memimpin pasukannya. Setiap tahun secara berselang-seling Harun ar-Rasyid selalu melaksanakan ibadah haji atau berperang. Kemewahan yang melingkarinya tidak lantas menjadikannya sombong. Harun ar-Rasyid selalu melaksanakan ibadah haji berjalan kaki, setiap harinyapun tak kurang dari seratus rakaat shalat didirikannya. (Syalabi 1993:108)

    Harun ar-Rasyid dikenal sebagai pemimpin yang adil dan memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Pada masa kepemimpinan Harun ar-Rasyid, baitul mal bertugas untuk mencukupi kebutuhan pokok para penduduk, termasuk untuk mencukupi kebutuhan makan dan minum serta pakaian musim panas dan musim dingin bagi para narapidana. Bahkan istri Harun ar-Rasyid, Zubaidah menjadi terkenal kedermawanannya, terutama karena idenya untuk menggali sumur-sumur sepanjang lintasan haji dari Iraq sampai ke Mekkah yang tentunya sangat banyak mambantu para kafilah haji selama perjalanan mereka. (G.S. Hodgson 2002:80)

    Perhatian Harun ar-Rasyid terhadap perkembangan ilmu pengetahuan juga sangat besar. Terbukti dengan maraknya proyek-proyek penerjemahan buku-buku dari berbagai bahasa ke dalam bahasa Arab. Pada masa pemerintahannya hidup tiga tokoh utama fikih Islam; Imam Malik bin Anas yang wafat pada 179 H/795 H, Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i yang wafat pada tahun 204 H/ 817 M dan Imam Ahmad bin Hambal yang wafat pada tahun 780 H/ 855 M. Selain itu, pada masa kepemimpinannya muncul tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam dunia bahasa dan kesusatraan, tasawwuf serta tokoh-tokoh dalam ilmu-ilmu eksak. Kitab al-Aghani yang sangat terkenal itu merupakan karya dalam dunia sastra yang muncul pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid. Disamping itu, salah satu karya sastra yang dikenal oleh dunia hingga saat ini adalah kisah seribu satu malam. (Sou’yb 1997:131)

    Perkembangan ilmu pengetahuan ini tidak hanya terlihat di Baghdad sebagai pusat pemerintahan dinasti Abbasiyah, namun juga di Kufah, Basrah, Jundeyvebar dan Harran. Tidak hanya penduduk beragama Islam yang ikut serta dalam menyemarakkan geliat pertumbuhan ilmu pengetahuan pada masa itu, para dzimmy juga mengambil peran dalam penerjemahan teks-teks filsafat dan medis helenisme klasik dari bahasaYunani ke dalam bahasa Arab. Perhatian Harun ar-Rasyid terhadap ilmu pengetahuan juga terlihat dalam penunjukan guru bagi para putra-putranya. Sebagai seorang khalifah, Harun ar-Rasyid sadar betul bahwa dia harus mempersiapkan putra-putranya dengan bekal yang cukup agar kelak mereka bisa melanjutkan tugas khilafah ini.

    Salah satu puncak pencapaian yang membuat namanya melegenda adalah perhatiannya dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Di masa kepemimpinannya terjadi penerjemahan karya-karya dari berbagai bahasa. Inilah yang menjadi awal kemajuan yang dicapai Islam. Menggenggam dunia dengan ilmu pengetahuan dan perabadan. Pada era itu pula berkembang beragam disiplin ilmu pengetahuan dan peradaban yang ditandai dengan berdirinya Baitul Hikmah – perpustakaan raksasa sekaligus pusat kajian ilmu pengetahuan dan peradaban terbesar pada masanya. Harun pun menaruh perhatian yang besar terhadap pengembangan ilmu keagamaan. Sang khalifah tutup usia pada 24 Maret 809 M pada usia yang terbilang muda 46 tahun. Meski begitu pamor dan popularitasnya masih tetap melegenda hingga kini. Namanya juga diabadikan sebagai salah satu tokoh dalam kitab 1001 malam yang amat populer. Pemimpin yang baik akan tetap dikenang sepanjang masa. (Achmadi 1992:23)

    Dinasti Abbasiyah yang berdiri setelah jatuhnya kekuasaan Dinasti Umayah. Dinasti Abbasiyah dikenal dengan masa kebangkitan pendidikannya, terutama di bawah kepemimpinan khalifah yang kelima yaitu Khalifah Harun Al-Rasyid dan puteranya Khalifah Al Makmun. Pada masa pemerintahannya, Harun ar-Rasyid banyak berperan dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dengan memperbesar departemen studi ilmiah dan penerjemahan yang didirikan kakeknya, AlMansur. Kemurahan hati Al-Rasyid, para menteri dan anggota istana yang berbakat terutama keluarga Barmak, yang membantu ilmu pengetahuan. (As Suyuti 2012:94)

    Dibawah pemerintahan Harun, Baghdad juga terkenal dengan tokotoko bukunya, yang berkembang pesat setelah produksi kertas diperkenalkan. Para perajin dari China, yang terampil membuat kertas, termasuk mereka yang ditangkap oleh pasukan Arab dalam Perang Talas pada 751. Sebagai tawanan perang, mereka dkirim ke Samarkand, disana pabrik kertas pertama Arab didirikan. Pada akhirnya kertas menggantikan perkamen sebagai media yang biasa digunakan untuk menulis, dan produksi bukupun meningkat sangat pesat. Semua ini memberi dampak intelektual dan kultural yang dapat dibandingkan dengan pengenalan percetakan di Barat. Harun memfasilitasi dan mendorong korespodensi dan pembuatan buku-buku catatan. Hal ini membawa kesibukan baru dalam perdagangan, perbangkan, dan kerja administrasi. Pada 794-795, Ja‟far al Barmak mendirikan pabrik kertas pertama di Baghdad, dan dari sinilah teknologi menyebar. Harun berusaha keras agar kertas digunakan dalam catatan pemerintah, karena sesuatu yang tertulis di kertas tidak dapat diubah atau dihapus dengan mudah. Kemudian sebuah jalan di kawasan komersial kota disediakan untuk penjualan kertas dan buku.

    Pada masa kepemimpinannya ada Jabir bin Hayyan, Al Khuwarizmi dan Al Kindi, yang telah meninggalkan peninggalan bagi khazanah keilmuan dunia dengan muatan ilmiah yang tiada banding. Ia sering berkunjung ke berbagai wilayah kerajaan bersama perawi, ulama dan qadhi. Perkembangan intelektual dimulai dengan menterjemahkan khazanah intelektual Yunani klasik seperti filsafat Aristoteles. Khalifah sendiri mengalokasikan anggaran khusus untuk menggaji para penerjemah dari golongan Kristen, kaum Sabi, dan bahkan juga para penyembah bintang Beberapa upaya yang dilaksanakan terkait dengan kemajuan dan perkembangan peradaban Islam. Peradaban-peradaban tersebut pada dasarnya merupakan akulturasi dari peradaban Islam dengan peradaban lainnya, terutama Persia atau Yunani, di antaranya yaitu:

    Pertama Gerakan Penerjemahan, Kegiatan penerjemahan sudah dimulai sejak masa Umayyah,upaya besar-besaran untuk menerjemahkan manuskrip berbahasa asing terutama bahasa Yunani dan Persia ke dalam bahasa arab mengalami keemasannya pada masa Abbasiyah. Para ilmuwan di utus ke daerah Byzantium untuk mencari naskah-naskah Yunani dalam berbagai bidang ilmu filsafat dan kedokteran. Sedangkan perburuan manuskrip di daerah timur seperti Persia adalah dalam bidang sastra dan tata negara. Para penerjemah tidak hanya dari kalangan Islam tetapi juga dari pemeluk Nasrani di Syiria dan Majusi dari Persia. Biasanya naskah berbahasa Yunani diterjemahkan ke Bahasa Syiria kuno sebelum ke dalam Bahasa Arab. Hal ini di karenakan penerjemah biasanya adalah para Pendeta Kristen Syiria yang hanya memahami bahasa Yunani dan bahasa mereka sendiri yang berbeda dari Bahasa Arab. Kemudian para ilmuwan yang memahami Bahasa Syiria dan Arab menerjemahkan naskah tersebut kedalam Bahasa Arab. (Brobick 2012:34)

    Kedua, Membangun Bait al-Hikmah . Bait al-Hikmah merupakan perpustakaan yang juga berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Instuisi ini merupakan kelanjutan dari instuisi yang serupa di masa imperium Sasania Persia yang bernama Jundi Shapur Academy. Perbedaannya, pada masa Persia institusi ini hanya menyimpan puisi - puisi dan cerita-cerita untuk raja, sedangkan pada masa Abbasiyah (Harun Al-Rasyid) instutusi ini diberi nama Khizanah alHikmah yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian.

    Ketiga, Toko-toko buku Selama masa kejayaan dinasti Abbasiyah, toko-toko buku berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Toko-toko buku tidak hanya menjadi pusat pengumpulan dan penyebaran (penjualan) buku-buku, tapi juga menjadi pusat studi dengan lingkaran-lingkaran studi berkembang di dalamnya. Pemilik toko buku biasanya menjadi tuan rumah dan kadang menjadi pemimpin lingkaran studi tersebut. Ini semua menunjukan betapa antusiasnya umat Islam masa itu dalam menuntut ilmu.

    Keempat, Majelis atau Salon kesusastraan Majelis atau salon kesusastraan adalah suatu majelis khusus yang diadakan oleh khalifah untuk membahas berbagai macam ilmu pengetahuan. Majelis seperti ini telah ada sejak masa khulafa AlRasyidin dan diadakan di masjid. Namun pada masa dinasti Umayyah, pelaksanaannya dipindah ke istana dan hanya dihadiri oleh orang orang tertentu saja. Salon sastra yang berkembang disekitar khalifah yang berwawasan ilmu dan para cendekiawan sahabatnya, menjadi tempat bertukar pikiran tentang sastra dan ilmu pengetahuan.

    Kelima, Rumah sakit Pada masa Abbasiyah, rumah sakit bukan hanya berfungsi sebagai tempat untuk merawat dan mengobati orang sakit, tetapi juga berfungsi sebagai tempat mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan keperawatan dan pengobatan. Rumah sakit juga merupakan tempat praktikum dari sekolah kedokteran yang didirikan diluar rumah sakit. Dengan demikian, rumah sakit dalam dunia Islam juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan. Kemudian ini diterapkan dalam dunia modern.

    Keenam, Perpustakaan Salah satu ciri perpustakaan pada masa dinasti Abbasiyah ini adalah tumbuh kembangnya dengan pesat perpustakaan-perpustakaan, baik yang besifat umum; didirikan oleh pemerintah, maupun perpustakaan yang sifatnya khusus; didirikan oleh para ulama dan sarjana.

    Ketujuh, Masjid Merupakan institusi pendidikan Islam yang sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW. Masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi bagi kaum muslimin, termasuk kegiatan pendidikan. Pada masa Umayyah, masjid berkembang fungsinya sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan utama dalam bidang keagamaan.

Sumber Referensi:

Achmadi. 1992. Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media.

As Suyuti, Imam. 2012. Tarikh Khulafa’ Sejarah Para Penguasa Islam. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.

Brobick, Benson. 2012. Kejayaan Sang Khalifah Harun Al Rasyid Kemajuan Peradaban Dunia Pada Zaman Keemasan Islam. Tangerang: PT Pustaka Alvabet.

G.S. Hodgson, Marshall. 2002. The Venture of Islam: Iman Dan Sejarah Dalam Peradaban Islam Masa Klasik Islam. Jakarta: Penerbit Paramadina.

NC Syukur, Fatah. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Semarang: Pustaka Rizki Putra.

Sou’yb, Joesoef. 1997. Sejarah Daulat Abbasiyah I. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang.

Syalabi, A. 1993. Sejara Dan Kebudayaan Islam Jilid 3. Jakarta: Pustaka Alhusna.





Media dakwah masa kini yang mengenalkan sejarah & peradaban Islam.







 

Komentar

Popular Posts

Imam Abu Hasan al-Asy’ari, Pendiri Mazhab Teologi Asy’ariyah.

         Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ari, dikenal dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari.  Beliau merupakan keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari, salah seorang perantara dalam sengketa Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, beliau berkata,  “Aku membaca di hadapan Nabi Muhammad saw. penggalan ayat ‘Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.’ Maka, Nabi bersabda, ‘Mereka (yang dimaksud dalam penggalan ayat tersebut) adalah kaummu, wahai Abu Musa’. Dan Rasulullah memberikan isyarat dengan tangan beliau kepada Abu Musa al-Asy’ari”. (HR Al-Hakim).        Kelahiran dan Masa Remaja      Abu al-Hasan al-Asy’ari dilahirkan di Basrah pada tahun 260 H/873 M. Beliau merupakan Pendiri madzhab ...