Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah adalah melanjutkan kekuasaan
Dinasti Bani Umayyah I yang berpusat di Damaskus. Dinamakan Daulah Abbasiyah
karena para pendiri dan penguasa Dinasti ini adalah keturunan Abbas, paman Nabi
Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah Ibn Muhammad
Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn al-Abbass. Dia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104
H. Dia dilantik menjadi Khalifah pada tanggal 3 Rabiul awwal 132 H. Kekuasaan
Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung dari tahun 750-1258.
Akan tetapi karena kekuasaannya sangat singkat, Abu Ja’far
al-Mansur (754-775 M) yang banyak berjasa dalam membangun pemerintahan dinasti
Abbasiyah. Pada tahun 762 M, Abu Ja’far alMansur memindahkan ibukota dari
Damaskus ke Hasyimiyah, kemudian dipindahkan lagi ke Baghdad. Oleh karena itu,
ibukota pemerintahan dinasti Abbasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia.
Abu Ja’far al-Mansur dicatat sebagai pendiri dinasti Abbasiyah yang
berkuasa lebih kurang 20 tahun dan dianggap sebagai tokoh yang terkenal hebat,
berani, kuat, tegas, dan gagah perkasa. Ibn Thabathiba, misalnya, berkata bahwa
al-Mansur adalah seorang raja yang agung, tegas, bijaksana, alim, dan berpikir
cerdas, pemerintahannya rapi, amat disegani, dan berbudi baik. Ditangannyalah
dinasti Abbasiyah mempunyai pengaruh yang sangat kuat.
Pada zaman Abbasiyah konsep kekhalifahan berkembang sebagai sistem
politik. Ketika Daulah Abasiyah memegang tampuk kekuasaan tertinggi islam,
terjadi banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat. Kekuasaan bani Abassiyah
berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang berkisar tahun 132 H sampai
656 H (750 M-1258 M) yang dibagi menjadi 5 periode :
1.
Periode pertama
(132 H/750 M- 232 H/847 M). Di sebut periode pengaruh Persia pertama.
2.
Periode kedua
(232 H/847 M- 334 H/945 M). Di sebut masa pengaruh Turki pertama.
3.
Periode ke tiga
(334 H/ 945 M – 447 H/1055 M). Masa kekuasaan dinasti Buwaih atau pengaruh
Persia kedua.
4.
Periode ke
empat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M). Merupakan kekuasaan dinasti bani Saljuk
dalam pemerintahan atau pengaruh Turki dua.
5.
Periode ke lima
(590 H/1194 M – 565 H/1258 M). Merupakan masa mendekati kemunduran dalam
sejarah peradaban islam
Di bawah ini merupakan silsilah para khalifah dari Bani Abbasiyah,
mulai dari Abbas bin Abdul-Muththalib sampai khalifah terakhir dari Bani
Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad, Para Khalifah Bani Abbasiyah berjumlah 37
khalifah.
|
NO |
KHALIFAH |
NO |
KHALIFAH |
|
1 |
Abul Abbas Ash-Shafah (Pendiri) 749-754 M |
20 |
Abul abbas Ahmad ArRadi 934-940 M |
|
2 |
Abu Ja’far Al-Manshur 754-775 M |
21 |
Abu Ishaq Iabrahim AlMuttaqi 940-944 M |
|
3 |
Abu Abdullah Muhammad Al-Mahdi 775-785 M |
22 |
Abul Qasim Abdullah Al-Mustaqfi 944-946 M |
|
4 |
Abu Muhammad Musa AlHadi 785-786 M |
23 |
Abul Qasim Al-Fadl AlMu’ti 946-974 M |
|
5 |
Abu Ja’far Harun Ar-Rasyid 786-809 M |
24 |
Abul Fadl Abdul Karim At-Thai 974-991 M |
|
6 |
Abu Musa Muhammad AlAmin 809-813 M |
25 |
Abul Abbas Ahmad AlQadir 991-1031 M |
|
7 |
Abu Ja’far Abdullah AlMa’mun 813-833 M |
26 |
Abu Ja’far Abdullah AlQaim 1031-1075 M |
|
8 |
Abu Ishaq Muhammad AlMu’tashim 833-842 M |
27 |
Abul Qasim Abdullah Al-Muqtadi 1075-1094 M |
|
9 |
Abu Ja’far harun Al-Watsiq 842-847 M |
28 |
Abul Abbas Ahmad AlMustadzir 1094-1118 M |
|
10 |
Abu Fadl ja’far AlMutawakil 847-861 |
29 |
Abu Manshur Al-Fadl Al-Mustarsyid 1118- 1135 M |
|
11 |
Abu Ja’far Muhammad AlMuntashir 861-862 M |
30 |
Abu Ja’far Al-Mansur Ar-Rasyid 1135-1136 M |
|
12 |
Abul Abbas Ahmad AlMusta’in 862-866 M |
31 |
Abu Abdullah Muhammad Al-Muqtafi 1136-1160 M |
|
13 |
Abu Abdullah Muhammad Al-Mu’taz 866-869 M |
32 |
Abul Mudzafar AlMustanjid 1160-1170 M |
|
14 |
Abu Ishaq Muhammad AlMuhtadi 869-870 M |
33 |
Abu Muhammad AlHasan Al-Mustadi 1170- 1180 M |
|
15 |
Abul Abbas Ahmad AlMu’tamid 870-892 M |
34 |
Abul Abbas Ahmad AnNasir 1180-1225 M |
|
16 |
Abul Abbas Ahmad AlMu’tadid 892-902 M |
35 |
Abu Nasr Muhammad Az-Zahir 1225-1226 M |
|
17 |
Abul Muhammad Ali AlMuktafi 802-905 M |
36 |
Abu Ja’far Al-Mansur Al-mustansir 1226-1242 M |
|
18 |
Abul Fadl Ja’far AlMuqtadir 905-932 M |
37 |
Abu Abdullah AlMu’tashim Billah 1242- 1258 M |
|
19 |
Abu Mansur Muhammad AlQahir 932-934 M |
|
|
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa
keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan
merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain kemakmuran
masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan
landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun
setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam
bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.
Masa pemerintahan Abu al-Abbas, sangat singkat, yaitu dari tahun
750-754 M. Selanjutnya digantikan oleh Abu Ja'far al-Manshur (754-775 M), yang
keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan
Syi'ah. Untuk memperkuat kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi
saingan baginya satu per satu disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin
Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh
khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir dibunuh karena tidak bersedia
membaiatnya, al-Manshur memerintahkan Abu Muslim al-Khurasani melakukannya, dan
kemudian menghukum mati Abu Muslim al-Khurasani pada tahun 755 M, karena dikhawatirkan
akan menjadi pesaing baginya.
Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah.
Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri
itu, al-Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya,yaitu
di Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M. Dengan
demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa
Persia. Di ibu kota yang baru ini alManshur melakukan konsolidasi dan
penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga
eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru
dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator dari kementrian yang ada, Wazir
pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Dia juga
membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara di
samping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abdurrahman
sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak
masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau
dulu hanya sekadar untuk mengantar surat. Pada masa al-Manshur, jawatan pos
ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga
administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos
bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah.
Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang
sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di
daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut
benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada
tahun 756-758 M. Kesebelah utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus
dan mendekati selat Bosphorus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar
Constantine V dan selama gencatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti
tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di
Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oxus, dan India.
Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan dan
dibangun oleh Abu al-Abbas as-Saffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari
dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M),
al-Hadi (775- 786 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), al-Ma'mun (813-833 M),
al-Mu'tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M).
Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan
di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti
perak, emas, tembaga dan besi. Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya
di zaman khalifah Harun ArRasyid Rahimahullah (786-809 M) dan puteranya
al-Ma'mun (813-833 M) (Syamruddin Nst.2007: 83). Kekayaan negara banyak
dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah
sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya sudah terdapat
paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandianpemandian umum
juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan,
dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa
inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak
tertandingi.
Al-Ma'mun, pengganti Harun Ar-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang
sangat cinta kepada ilmu filsafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan
buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji
penerjemahpenerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli
dibidangnya masing masing. Ia juga banyak mendirikan sekolah sekolah, salah
satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah, pusat
penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang
besar. Pada masa Al-Ma'mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan
ilmu pengetahuan.
Al-Mu'tasim, khalifah berikutnya (833-842 M), memberi peluang besar
kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka
dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah,
dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang-orang
muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi
prajurit-prajurit profesional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Bani
Abbas menjadi sangat kuat. Walaupun demikian, dalam periode ini banyak
tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan
Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan
sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di
Afrika Utara, gerakan Zindiq di Persia, gerakan Syi'ah, dan konflik antarbangsa
dan aliran pemikiran keagamaan, semuanya dapat dipadamkan.
Setelah mencapai puncak kejayaan seperti halnya Dinasti Umayyah
Dinasti Abbasiyah juga megalami kemunduran dan kehancuran. Menurut Badri yatim,
diantara hal yang menyebabkan kemunduran dinasti Abbasiyah adalah sebagai
berikut:
1.
Persaingan
Antar Bangsa adalah khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu
dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib
kedua golongan itu pada masa bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama
tertindas. Setelah Dinasti Abbasiyah berdiri, Bani Abbasiyah tetap
mempertahankan persekutuan itu.
2.
Kemerosotan
Ekonomi yaitu khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi
bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama,
pemerintahan Bani Abbasiyah merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk
lebih besar dari yang keluar sehingga bait Al-Mal penuh dengan harta.
3.
Konflik
Keagamaan yaitu fanatisme keagamaan terkait erat dengan persoalan kebangsaan.
Pada periode Abbaasiyah , konflik yang muncul menjadi isu sentra sehingga
menyebabkan perpecahan. Berbagai aliran keagamaan seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Ahlus
Sunnah, dan kelompok-kelompok lainnya menjadikan pemerintahan Abbasiyah
mengalami kesulitan untuk mempersatukan berbagai faham keagamaan yang ada.
4.
Perang Salib
adalah merupakan sebab dari eksternal umat Islam. Perang salib yang berlangsung
beberapa gelombang banyak menelan korban. Konsentrasi dan perhatian
pemerintahan Abbasiyah terpecah belah untuk menghadapi tentara Salib sehingga
memunculkan kelemahan-kelemahan.
5.
Serangan Bangsa
Mongol adalahserangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam menyebabkan
kekuatan Islam menjadi lemah, apalagi serangan Hulagu Khan dengan pasukan
Mongol yang biadab menyebabkan kekuatan Abbasiyah menjadi lemah dan akhirnya
menyerah kepada kekuatan Mongol.
Sumber Referensi:
Aminullah, A. Najili. 2011. “Dinasti Bani Abbasiyah, Politik,
Peradaban Dan Intelektual.” 17–30.
Tarbiyah, Fakultas. 2017. “Pendidikan Islam Masa Dinasti
Abbasiyah.” Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam 1(1):47–65.

Komentar
Posting Komentar