Langsung ke konten utama

Masjid Menara Kudus

 


Masjid Menara Kudus


Menara Masjid Al-Aqsha Kudus (warga Kudus menyebut Menara Kudus) berada di halaman Masjid Al-Aqsha Kudus di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kudus, Jawa Tengah. Bangunan yang menjulang itu menjadi cagar budaya. Awalnya, di tempat Menara Kudus, dalam cerita rakyat, terdapat sumur yang airnya dipercaya warga sebagai sumber kehidupan. Jika ada orang yang meninggal, lalu diobati dengan air sumur tersebut, orang itu akan hidup lagi. Hal ini membahayakan akidah warga sehingga sumur ditutup dengan bangunan menara. Sumur tersebut, dalam tradisi tutur lainnya, digunakan untuk menimbun kitab-kitab agama Hindu agar kitab tidak dipelajari warga Kudus. Jika kitab tersebut dipelajari, dikhawatirkan warga Kudus memahami ajaran Hindu sehingga menghambat lajunya Islam. Cerita tersebut mengandung pesan yang bermuatan kearifan lokal bahwa Menara merupakan bangunan suci yang harus dirawat karena terdapat kitab suci.

 Fakta lain adalah bahwa berdasarkan riset arkeolog hiasan porselen yang tertempel pada dinding bagian luar bangunan Menara Kudus berjumlah 32 buah, 20 buah berwarna biru bermotif pemandangan alam (masjid, manusia, unta, dan pohon kurma), sedangkan 12 buah lainnya berwarna merah putih dengan motif bunga. Sakai Takashi dan Takimoto Tadashi, arkeolog Jepang, pada 28 Agustus 2008 datang di Menara Kudus untuk menelusuri asal mula berbagai keramik yang menempel di Menara Masjid al-Aqsha Kudus. Menurut keduanya, dua di antara sekian banyak keramik di Menara Kudus yang menempel di atas pintu bagian utara dan selatan adalah produk pabrik keramik di Vietnam abad ke14 – 15. Keramik di bagian utara berbentuk segi empat, berwarna dasar putih. Adapun bagian tengah berwarna sedikit kebiruan dengan motif bunga. Keramik berusia tua, yaitu dibuat pada abad ke-14 atau sekitar tahun 1450 M. Adapun keramik di bagian selatan berbentuk lebih besar, lebih menarik, didominasi warna biru dengan motif bunga yang bercirikan Vietnam dan bentuknya bernuansa Islam. Motif ini dapat ditemukan di Istanbul Turki. Adapun pernik keramik yang sebagian besar ada di Masjid Al-Aqsha umumnya buatan Cina sekitar tahun 1920-an.

Ragam motif serupa juga ada di Gerbang Keraton Kasepuhan Cirebon, Masjid Agung Cirebon, dan Gerbang Makam Sunan Bonang di Tuban. Tradisi pemakaian hiasan piring porselen diilhami oleh hiasan porselen tembok sebagai seni bangunan Islam di Asia Barat dan Asia Tengah pada masa awal perkembangan. Piring porselen di Menara Kudus semula berasal dari Vietnam dan Tiongkok. Karena banyak yang rusak atau lepas, sebagian besar diganti piring porselen dari Belanda (restorasi pada era kolonial Belanda). Porselen yang menempel pada dinding Menara berbentuk piring (lingkaran), bentuk segi empat dengan motif meander yang dikombinasi dengan stilisasi berbentuk bunga dan berbentuk organik yang berasal dari Vietnam. Porselen hias berbentuk seperti kupu-kupu dan bentuk segi empat di atas gerbang paduraksa bagian depan (halaman Masjid AlAqsha), sebagaimana terdapat di Masjid Agung Demak, berasal dari Tiongkok dan Vietnam. Adapun ornamen kaligrafi Arab (khot) di serambi depan Masjid Al-Aqsha yang berupa hiasan gelas patri (stained glass) merupakan hiasan baru yang dibuat setelah penambahan ruang serambi masjid tahun 1933.

Menara Kudus versi sejarah lisan merupakan tempat mengumandangkan azan dan menyimpan beduk yang ditabuh menjelang tiba waktu salat lima waktu (hingga kini masih digunakan dua hal itu). Ada juga yang berpendapat bahwa Menara Kudus digunakan sebagai mercusuar atau memandu kapal yang melewati Selat Muria. Ketika memahami peta riil kondisi bangunan Menara Kudus, terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa bangunan yang didirikan sebelum orang Islam ada/datang di wilayah Kudus merupakan kelompok Budo. Bangunan Menara Kudus semula berupa sebuah candi yang kemudian berubah fungsi (bentuk menara tersebut mirip dengan Candi Jago di Jawa Timur). Ada pula anggapan bahwa tingginya bangunan menara menjadi tempat memanggil dan mengumpulkan orang. Bangunan ini dapat dibandingkan dengan bale Kulkul di Bali. Menurut Roesmanto, bangunan Menara Kudus sering diserupakan bentuknya dengan Bale Kulkul, yakni bangunannya menyerupai menara yang beratap dan tempat kulkul/kentongan agar informasi terdengar jauh dari banjar (desa) dan candicandi di Jawa Timur, seperti Candi Jago (keserupaan ornamen tumpul sebagian unsur asli Indonesia yang terdapat pada susunan tangga di Menara Kudus dan Candi Jago), Candi Kidal, dan Candi Singasari. Persepsi itu akibat (1) adanya keserupaan bentuk antara Menara Masjid Kudus dengan Bale Kulkul, terbuat dari rangka kayu dan adanya kentongan yang tergantung di bawah atap Menara, (2) di Jawa Timur terdapat candi yang memiliki pejal yang tinggi sebagai penyangga bale, sebagaimana Menara Kudus. Ada yang menyatakan bahwa Menara Kudus bercorak Candi Jawa Timur, perpaduan budaya Hindu-Jawa-Islam-Cina dan bercorak Hindu Majapahit. Bangunan Bale Kulkul ada pada setiap kompleks pura (tempat ibadah umat Hindu) dan puri (tempat tinggal keluarga raja) di Bali. Bale Kulkul di banjar (dusun), puri, dan pura pada umumnya terletak di dekat jalan utama lingkungan desa atau jalan antarkota. Masjid Al-Aqsha Kudus dibangun tahun 1549 M. Dalam perkembangan arsitektur masjid di Jawa, bangunan Menara Kudus merupakan minaret pertama yang melengkapi sebuah masjid.

Menara Kudus pada mulanya adalah bangunan semacam tetenger yang dibuat oleh komunitas Budo di wilayah yang selanjutnya bernama Kudus dan Sunan Kudus memanfaatkan bangunan itu untuk dakwah. Kata menara dikaitkan dengan keberadaan masjid kuno dan nama Kota Kudus. Ada dua kemungkinan asal kata. Pertama, perubahan nama dari alManar sesuai dengan apa yang tertulis pada inskripsi di dalam Masjid Menara Kudus. Kedua, sebutan adanya menara (mirip candi) di sebelah tenggara masjid ini sekarang. Ada yang berpendapat bahwa kata menara berasal dari kata almanar, sebagaimana orang dulu menyebut nama didasarkan atas kebiasaan yang dihubungkan dengan kehidupannya. Bangunan besar yang bentuknya mirip candi Hindu lebih menarik perhatian masyarakat Kudus saat itu daripada keberadaan masjid. Penyebutan Masjid Menara Kudus, menurut Ashadi, seolaholah mengandung makna masjidnya menara, masjid milik menara. Dengan demikian, bangunan menara lebih bermakna daripada masjid bagi masyarakat Kudus Kuno. Sebagai perbandingan, Masjid Banten memiliki menara, warga Banten menyebutnya Masjid Banten, bukan Masjid Menara (Banten). Pada awalnya, ada tiga sebutan kaitannya dengan Masjid Menara Kudus, yakni AlManar, Al-Aqsha, dan Al-Quds. Warga kurang familier menyebut ketiga istilah asing (Arab) dan lebih familier menyebut Masjid Menara Kudus (hingga kini). Bisa jadi kata menara diperoleh warga Kudus dari perubahan kata al-Manar atau kata menara sudah ada. Bahkan, sebelum ada kata menara, Al-Manar dan Al-Quds sudah dikenal sebagai nama sebelum nama Kudus, yakni nama tajug. Di tempat itu mungkin sebelumnya telah ada orang yang bermukim yang menganut animisme. Bangunan menara selain sebagai tetenger (penanda) juga sebagai simbol persatuan kelompok masyarakat Kudus Kuno. Menara Kudus adalah axis mundi, sebuah pilar kosmik yang menghubungkan bumi tempat berpijak manusia dengan surge sebagai tempat setelah meninggal dunia. Dengan demikian, menara dijadikan pusat peribadatan masyarakat Kudus kuno.


Sumber Referensi:

Rosyid, Moh. 2019. “Menara Masjid Al-Aqsha Kudus Antara Situs Hindu Atau Islam.” PURBAWIDYA: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi 8(1):15–27.

 




Media dakwah masa kini yang mengenalkan sejarah & peradaban Islam.







 

Komentar

Popular Posts

Imam Abu Hasan al-Asy’ari, Pendiri Mazhab Teologi Asy’ariyah.

         Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ari, dikenal dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari.  Beliau merupakan keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari, salah seorang perantara dalam sengketa Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, beliau berkata,  “Aku membaca di hadapan Nabi Muhammad saw. penggalan ayat ‘Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.’ Maka, Nabi bersabda, ‘Mereka (yang dimaksud dalam penggalan ayat tersebut) adalah kaummu, wahai Abu Musa’. Dan Rasulullah memberikan isyarat dengan tangan beliau kepada Abu Musa al-Asy’ari”. (HR Al-Hakim).        Kelahiran dan Masa Remaja      Abu al-Hasan al-Asy’ari dilahirkan di Basrah pada tahun 260 H/873 M. Beliau merupakan Pendiri madzhab ...